Yogyakarta – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Provinsi Sulawesi Tengah melaksanakan studi tiru terkait penyelenggaraan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), strategi percepatan penurunan stunting, serta penguatan ketahanan keluarga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (27/10/2026).
Kunjungan tersebut dilaksanakan di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (P3AP2) DIY serta Kantor Dinas P3AP2KB Kota Yogyakarta. Rombongan Dinas P2KB Provinsi Sulawesi Tengah diterima langsung oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Dinas P3AP2 DIY, Soleh Anwari, dan Kepala Dinas P3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas,
Kepala Dinas P2KB Provinsi Sulawesi Tengah, drg. Herry Mulyadi, didampingi Kepala Subbagian Program, Keuangan, dan Aset, Marliany Rotinsulu, mengatakan bahwa studi tiru ini bertujuan menggali strategi dan praktik baik yang telah diterapkan Pemerintah Daerah DIY dalam meningkatkan capaian Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga).
“DIY menjadi salah satu daerah yang mampu mempertahankan bahkan meningkatkan capaian iBangga secara konsisten dalam lima tahun terakhir. Kami ingin mempelajari strategi yang diterapkan agar dapat diadaptasi sesuai kondisi dan kebutuhan di Sulawesi Tengah,” ujar drg. Herry.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk Dinas P3AP2 DIY, Soleh Anwari, menjelaskan bahwa peningkatan iBangga tidak dapat dicapai oleh satu perangkat daerah saja, melainkan memerlukan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.
“Keberhasilan meningkatkan iBangga merupakan hasil sinergi seluruh pemangku kepentingan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Dengan kolaborasi yang kuat, target iBangga DIY tahun 2026 sebesar 68,2 optimistis dapat tercapai,” jelas Soleh.
Pada kesempatan tersebut, rombongan Dinas P2KB Provinsi Sulawesi Tengah juga mempelajari strategi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menurunkan prevalensi stunting secara signifikan, dari 14 persen menjadi 8,24 persen atau sekitar 753 balita pada tahun 2026.
Kepala Dinas P3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut berawal dari komitmen kuat kepala daerah dalam memastikan tersedianya data yang akurat, lengkap, dan diperbarui secara berkelanjutan.
“Wali Kota Yogyakarta secara rutin meminta data ibu hamil, bayi yang lahir, calon pengantin, hingga faktor-faktor risiko yang dimiliki setiap keluarga. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang tepat sasaran,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, setiap hari Jumat camat, lurah, Tim Penggerak PKK, dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) melakukan kunjungan langsung kepada keluarga yang berisiko stunting untuk mengidentifikasi permasalahan di lapangan. Selanjutnya, setiap hari Selasa dilakukan rapat koordinasi lintas perangkat daerah guna membahas hasil temuan dan menentukan langkah penanganan secara cepat.
“Intervensi dilakukan secara menyeluruh, baik melalui pendekatan fisik maupun nonfisik,” tambah Retnaningtyas.
Pada intervensi fisik, Pemerintah Kota Yogyakarta melaksanakan program bedah rumah melalui pembiayaan non-APBD serta penyediaan sambungan air bersih gratis bagi keluarga berisiko stunting melalui PDAM, termasuk pembebasan biaya pemakaian selama satu tahun.
Sementara itu, intervensi nonfisik difokuskan pada pembinaan calon pengantin, edukasi keluarga, serta penguatan ketahanan keluarga agar setiap keluarga memiliki kesiapan membangun kehidupan yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan.
Melalui studi tiru ini, Dinas P2KB Provinsi Sulawesi Tengah berharap berbagai strategi dan inovasi yang telah berhasil diterapkan di DIY dan Kota Yogyakarta dapat menjadi referensi dalam meningkatkan capaian iBangga, mempercepat penurunan stunting, serta memperkuat ketahanan keluarga di Sulawesi Tengah.
Menutup kunjungan tersebut, drg. Herry Mulyadi menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dan keterbukaan Pemerintah Daerah DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam berbagi pengalaman.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk belajar langsung dari berbagai praktik baik di Yogyakarta. Semoga strategi yang telah berhasil diterapkan di sini dapat kami adaptasi dan implementasikan di Sulawesi Tengah sehingga mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas keluarga dan percepatan penurunan stunting,” tuturnya.
Kunjungan studi tiru ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antardaerah dalam mewujudkan keluarga yang berkualitas, sejahtera, tangguh, dan bebas stunting, sekaligus mendukung keberhasilan Program Bangga Kencana di Provinsi Sulawesi Tengah.
Sumber: PPID Dinas P2KB Provinsi Sulteng
