?> Kemenpar Dukung Sulteng Terapkan Pariwisata Berbasis MICE
Sabtu, 16 Desember 2017

Kemenpar Dukung Sulteng Terapkan Pariwisata Berbasis MICE

  • PDF

MICE.jpg

Palu, Bertempat di Swiss Bell hotel, Kementrian Pariwisata Republik Indonesia mendorong pemerintah provinsi Sulawesi Tengah agar mengambil peluang pariwisata yang berbasis MICE pada (4/12).

         Kebijakan tersebut merupakan hal yang bisa dibilang masih baru, akan tetapi hal itu memiliki impact yang cukup luas bagi masyarakat, pemerintah dan secara ekonomi pun akan menggerakan sektor pariwisata menjadi lebih bergairah. 
         Kemenpar yang diwakili oleh Drs. Aranyaka Dananjaya Axioma, MA. Selaku Kepala Bidang Pengembangan Wisata Konvensi, Olahraga dan Rekreasi mengatakan selain mengandalkan pariwisata reguler (leisure). Daerah perlu mengambil peluang yang lebih besar. Yaitu pariwisata berbasis pada Meeting, Incentive Travel, Convention, Exhibition (MICE). 
         Aranyaka lebih jauh menjelaskan, bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya dan kekayaan alam yang sangat indah serta beragam. Dan khususnya Sulawesi Tengah sebagai wilayah indonesia yang lokasinya tepat di tengah, memiliki posisi yang strategis. Untuk itu Sulawesi Tengah harus mampu menangkap peluang tersebut dengan terus belajar dan berbenah guna memenuhi standar baku pariwisata MICE.
         “Ini peluang emas karena saya lihat Palu sudah memiliki bandara yang terus dikembangkan menjadi internasional, juga punya hotel yang mulai banyak. Maka Palu (Sulawesi Tengah) harus punya standar 3 A. Akses, Atraksi dan Amiditas. Serta sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengambil peluang MICE”. Jelas Aranyaka. 
         Gubernur Sulawesi Tengah diwakili oleh Ir. Mohamad Faisal Mang, MM  selaku Asisten Administrasi Pemerintahan, Hukum dan Politik. Menyampaikan bahwa kita harus cepat merespon peluang pariwisata yang ada. Untuknya ia menyambut antusias kebijakan MICE tersebut. 
         Lebih jauh ia menekankan agar semua pihak yang terkait perlu mengetahui apa itu MICE. Dan tentu harapannya sosialisasi ini memberi preferensi kepada kita (daerah), dan Pada akhirnya memberi dampak positif dan kedepan memberi kontribusi devisa yang besar. 
         Ia pun menjelaskan bagaimana telah banyak iven nasional maupun internasional telah sukses diselenggarakan di Sulawesi Tengah. Seperti pada masa kemarin yang baru diselenggarakan adalah TdCC. Dan berharap pada tahun depan lebih meriah, karena telah tersiar dengan baik. Ia yakin dapat merebut peluang tersebut. “Karena setiap acara besar yang diselenggarakan disini pasti orang tersebut membelanjakan uangnya, akomodasi hotel, kuliner kita punya Kaledo, dan oleh-oleh khas bawang goreng. Dan itu semua perlu diperkenalkan dan perlu dikemas dengan baik”. Kata Faisal Mang.
           Dan untuk kedepan ia berharap agar daerah lebih siap dan lebih ramah dalam menyambut tamu yang datang. Beberapa waktu lalu Sulawesi Tengah juga kedatangan tamu wisatawan domestik maupun internasional pada Gerhana Matahari bulan Maret lalu. 
         Ardiansyah Lamasitudju selaku kepala dinas pariwisata Sulawesi Tengah menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada kementrian pariwisata, karena telah menyelenggarakan acara yang sangat dibutuhkan oleh provinsi.
         Ia menyampaikan bahwa Sulawesi Tengah memiliki potensi pariwisata yang sangat indah. Khususnya Palu memiliki 5 dimensi keindahan alam. Togean sudah terkenal. Ia menegaskan Pariwisata perlu dikembangkan dan dibantu oleh semua pihak tidak hanya oleh dinas pariwisata saja, tetapi seluruh masyarakat.
         “Saya Terima kasih kepada pak Aksioma, dan mengapresiasi para nara sumber, agar kami bisa memaksimalkan potensi pariwisata kami dengan kebijakan MICE, saya rasa ini penting dan banyak hal yang perlu kami benahi. Ini kerja berat agar pariwisata kita maju. Dan kita dapat mempercepat pariwisata kita” Terang Ardiansyah penuh semangat. 
         Acara yang dimoderatori oleh Dr. Ir Adam Malik, M. Sc. Yang merupakan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako berlangsung sangat atraktif. 
         Drs. Hery Setyawan, M. Si. Lektor Kepala Politeknik Negeri Jakarta dan Dosen tetap prodi studi MICE. mengatakan bahwa negara yang dapat dengan baik mengelola MICE maka akan banyak mendatangkan banyak keuntungan. Ia memberi contoh Singapura yang merupakan negara yang luas wilayahnya tidak terlalu besar dapat memiliki pemasukan yang besar dari banyaknya pengunjung yang datang ke negaranya. 
         Hery mengatakan MICE merupakan ivent  besar yang memberi imbas besar terhadap ekonomi. Dan  dikategorikan 4 kategori, yaitu Meeting (Pertemuan), Incentive Travel (Perjalanan Wisata Insentif), Convention (Pertemuan), Exhibition (Pameran). Keempat hal diatas disingkat sesuai dengan nama yang mudah diucapkan. MICE. 
         Pemateri lainnya Moch. Nurul Huda, SH., MH. Selaku Staf Bagian penelaahan dan bantuan hukum biro perencanaan dan hukum Kemenbudpar menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan usaha pemerintah dalam memberi pemahaman yang komprehensif tentang kebijakan MICE, kepada semua stake holder terkait. Senada dengan Hery pemateri sebelumnya. Ia Bisa mengatakan semua pihak harus mengerti betul apa dan bagaimana MICE itu dipahami agar dalam pelaksanaannya di lapangan dapat terselenggara dengan baik. 
         Ia menuturkan bahwa guna mengatur secara terperinci potensi tersebut maka lahirlah Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2017 tentang Pedoman Tempat Penyelenggaraan Kegiatan (venue) Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran. Dan Permenpar RI Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pedoman Destinasi Penyelenggaraan Pertemuan, Perjalanan Insentif, Konvensi dan Pameran. 
         Dalam Permenpar RI diatas disebutkan MICE merupakan salah satu industri penggerak bagi pengembangan destinasi pariwisata yang berdaya saing. Dan memberi dampak dalam meningkatkan pendapatan, memperluas lapangan dan kesempatan kerja. Serta mendorong masuknya investasi. Disamping manfaat ekonomi, MICE juga menyediakan kesempatan untuk berbagi pengetahuan, menambah jaringan kerja dan penggerak utama pengembangan intelektual dan kerjasama regional. 
         Kebijakan MICE tersebut di kebut sosialisasinya karena diketahui bahwa, penyelenggaraan pariwisata yang bersandar pada kebijakan tersebut mendatangkan lebih banyak devisa bagi daerah atau negara sampai dengan 7 kali lipat. Sebagai gambaran setiap wisatawan biasa atau lebih familiar leisure rerata menghabiskan 1000 dollar AS secara keseluruhan. 

         Dr. Der. Forst. Ir. Ricky Avenzora, M. Sc. F. Dari IPB mengatakan agar semua stake holder yang hadir pada acara tersebut untuk optimis, bukan justru pesimis dengan hambatan yang terjadi, karena peluang yang besar pasti akan ada hambatan yang besar. Justru di forum sosialisasi inilah kita mencari dan menemukan jalan keluar, demi meraih peluang MICE yang besar. Karena dikatakannya ini merupakan peraturan menteri pariwisata baru, dikeluarkan pada tahun ini.

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 04 Desember 2017 23:47

Add comment


Security code
Refresh

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday7319
mod_vvisit_counterYesterday15963
mod_vvisit_counterThis week91148
mod_vvisit_counterLast week92617
mod_vvisit_counterThis month200312
mod_vvisit_counterLast month326599
mod_vvisit_counterAll days11657111

We have: 116 guests, 6 bots online
Your IP: 54.163.209.109
 , 
Today: Des 16, 2017
Pagerank Checker

Contact Us

Anda dapat menghubungi kami :

:

Jln. Samratulangi No. 101 Palu                 Sulawesi Tengah, Indonesia

: 0451 - 451311
:
info@sultengprov.go.id