?> Perempuan Sulteng Mesti Berkiprah di Berbagai Bidang
Rabu, 17 Januari 2018

Perempuan Sulteng Mesti Berkiprah di Berbagai Bidang

  • PDF
phi2017.jpg

Palu, Bertempat di halaman masjid agung Darusalam pada (20/12), pemerintah provinsi Sulawesi Tengah menggelar puncak acara Hari Ibu ke 89. 

 Gubernur Sulawesi Tengah Drs. H Longki Djanggola, M Si yang membacakan pidato Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Yohana Yembise, menyerukan agar dapat berkiprah diberbagai bidang, menurutnya perjuangan perempuan tidaklah kalah dengan kaum laki-laki. Karena sejarah juga telah mengabarkan bahwa 89 tahun silam perempuan Indonesia juga telah terjun dalam upaya memajukan bangsa, khususnya kaum perempuan di Yogyakarta. 

Selain itu pula perempuan Indonesia juga terus mengupayakan meningkatkan sumberdayanya dalam kesetaraanya dengan kaum laki-laki dalam bermasyarakat dan bernegara. 
“Peringatan hari ibu diadakan untuk menandai perjuangan perempuan Indonesia, yang telah berjuang mewujudkan masyarakat yang dilandasi oleh semangat dan cita-cita persatuan dan kesatuan yang pertama kali dicanangkan pada kongres perempuan di Yogyakarta. Peristiwa ini sebagai tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia yang diperingati setiap tahunnya, baik di dalam dan luar negeri. Dimana perjuangan perempuan Indonesia telah menempuh proses sangat penting, dalam menempuh persamaan dengan kaum laki-laki. Peringatan ini juga merupakan sebagai refleksi dan renungan bagi kita semua tentang berbagai upaya yang telah dilakukan dalam pergerakan perempuan dalam semua bidang pembangunan”. Tutur Gubernur. 
Dalam puncak acara tersebut Ny. Hj Zalzulmida A Djanggola. SH., CN. Selaku sesepuh perempuan Sulawesi Tengah sekaligus pembina PKK menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia dapat diraih juga berkat perjuangan perempuan Indonesia. Olehnya ia menegaskan bahwa kehadiran perempuan tidak boleh diabaikan dalam berbagai segi kehidupan saat ini. 
Selain itu ia juga menyampaikan bahwa perempuan harus terus diberdayakan kapasitasnya di bidang ekonomi, pendidikan dan budaya. Mengingat perempuan adalah merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya, atau sebagai pencetak sebuah generasi. Ia menginginkan pengenalan budaya dan seni diajarkan sejak usia dini.
Karena jika sebuah generasi tidak mengenal budayanya dengan baik maka akan dikhawatirkan akan kehilangan karakternya sebagai generasi Indonesia. “Saya menghimbau seni budaya harus diangkat, dari usia sejak dini diperkenalkan dengan budayanya. Karena budaya membentuk karakter anak. Jangan hanya budaya luar (barat). Siapa nenek moyang kita, siapa leluhur kita”. Terang Zalzulmida. 
Ia juga menyampaikan kepada semua yang hadir agar menaruh perhatian lebih kepada kaum perempuan dengan untuk menyudahi kekerasan terhadap perempuan. Apapun bentuknya, baik kekerasan secara fisik maupun verbal. Ia menginginkan perempuan diperlakukan layaknya ibu kita sendiri. Penuh hormat dan penuh kasih sayang. “Saya selaku sesepuh perempuan, stop kekerasan terhadap perempuan dan anak, harus pula diikuti oleh tindakan, dimulai pada lingkungan kita sendiri. Jangan sampai Sulteng menjadi daerah yang masyhur karena angka kekerasan yang tinggi”. Terang Zalzulmida. 
Secara khusus Zalzulmida menghimbau kepada kaum perempuan untuk terus meningkatkan kemampuannya. Baik kemampuan intelegensi maupun spiritualnya, mengingat peran yang dimilikinya sangat strategis dalam keluarga, lingkungan, bangsa dan negara. 
Dalam gelaran tersebut juga diserahkan penghargaan kepada perempuan yang memiliki kiprah yang berprestasi, seperti diketahui sebelumnya guna memperingati hari ibu, telah digelar berbagai iven yang didalamnya mengangkat dan menunjukan kemampuan yang dimiliki oleh kaum Ibu. 

Disela-sela acara turut pula diadakan lomba mewarnai yang diikuti tak kurang dari 115 siswa PAUD dan Taman Kanak Kanak se Kota Palu.

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 21 Desember 2017 08:30

Add comment


Security code
Refresh