?> Sulteng Persiapkan Kawasan Megalitik Lore Lindu Jadi Warisan Dunia
Senin, 18 Desember 2017

Sulteng Persiapkan Kawasan Megalitik Lore Lindu Jadi Warisan Dunia

  • PDF

FGDLoreLindu2017.jpg

(23/9/2017) Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud serta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo, yang cakupan wilayahnya meliputi Gorontalo, Sulut, Sulteng. Mempersiapkan kawasan megalitik Lore Lindu yang terletak di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi menjadi warisan dunia. 

 Keinginan ini dituangkan dalam diskusi lintas sektor dalam focus group discussion (FGD) Kawasan Megalitik Lore Lindu Menuju Warisan Dunia. Gelaran ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Sulawesi Tengah yang diwakili oleh asisten administrasi umum dan organisasi Mulyono, SE., Ak., MM. Ia berharap melalui acara ini, nilai warisan budaya dapat terus dihargai dan dilestarikan. Serta juga menjadi ajang kepedulian dan perhatian kita, khususnya warisan budaya yang berada di Kawasan Megalitik Lore Lindu. 

         Ia juga berharap dalam FGD ini para pihak pemangku kepentingan agar dapat menemukan solusi-solusi akan permasalahan pelestarian Lore Lindu dengan sebuah langkah yang kongkrit. “Kepada seluruh peserta diskusi saya harap kiranya mampu mencurahkan tenaga dan pikirannya dengan sebaik-baiknya dalam memaksimalkan kesempatan ini, agar hasilnya bisa berimplikasi dalam melestarikan, mengenalkan dan mempromosikan kawasan megalitik Lore Lindu di Sulawesi Tengah kepada dunia internasional”. Kata Mulyono yang sebelumnya menjabat Inspektur pada inspektorat pengawasan daerah. 
         Drs. Zakaria Kasimin selaku kepala BPCB Gorontalo yang menangani kawasan megalitik Lore Lindu mengungkapkan bahwa ini semua memiliki tujuan agar instansi terkait bersama dengan masyarakat dapat memahami arti penting dalam sebuah usaha pelestarian cagar budaya, sehingga situs-situs yang terletak di kawasan tersebut dapat terhindar dari segala bentuk pengrusakan, baik lingkungan dan juga objek cagar budaya itu sendiri. Kemudian di akhir kesempatan ini dapat terbit Pedoman dan Aturan Kerjasama Antara Pusat dan Daerah, di bidang pelestarian cagar budaya, wabil khusus kawasan Lore Lindu menjadi kebanggaan dan jati diri masyarakat Sulawesi Tengah, yang kemudian dapat memberi dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat sekitar cagar budaya. Karena Lore Lindu menjadi destinasi wisata nasional bahkan internasional. 
         Seperti diketahui bersama, bahwa kawasan cagar budaya Lore Lindu yang mencakup di 2 Kabupaten dan 7 Kecamatan memiliki cukup banyak peninggalan bersejarah, yaitu 67 situs cagar budaya. Dengan persebarannya yang terkenal diantaranya terletak di Kabupaten Poso Lembah Bada, Lembah Behoa, Lembah Napi dan di Kabupaten SIGI yaitu Danau Lindu. Pada 2018 nanti ditargetkan Zonasi dan Delineasi serta penetapan cagar budaya, dengan menuangkan dalam bentuk Perda, serta yang menjadi keinginan bersama adalah mengusulkan kepada Unesco agar Kawasan Lore Lindu menjadi warisan budaya dunia. Hal ini memiliki dasar yang konstitusional berdasar pada Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta diperkuat lagi dengan Undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. 
         Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Dr. Hilmar Farid yang hadir juga sekaligus salah satu pemateri, mengatakan bahwa ia mengapresiasi kegiatan usaha pelestarian dan memajukan budaya ini. Lebih jelas ia mengatakan bahwa usaha ini merupakan sebuah peroses yang cukup panjang dan bukan merupakan hal yang mudah layaknya membalikan telapak tangan. Perlu kerjasama semua pihak. Menurutnya dari sekian masalah yang akan dihadapi dalam proses tersebut adalah masalah kultural dan masalah ekonomi. Melalui forum inilah menurutnya dapat dicari jalan tengah, guna mengelola kawasan tersebut. Untuk itu pemerintah pusat memiliki komitmen yang serius, agar cagar budaya dapat terlindung, akan tetapi di lain sisi dapat berfungsi optimal secara ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan cagar budaya.  
         Harapan pemerintah pusat lainnya adalah dalam kawasan tersebut dapat terselenggara kegiatan atau festival nasional bahkan internasional, yang secara otomatis dapat mengenalkan kekayaan daerah kepada khalayak luas. Dimana kesemua usaha ini sejalan dengan misi pembangunan Provinsi Sulawesi Tengah (2016-2021) pada butir ketiga yaitu Meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan butir ke empat yaitu Mewujudkan pengelolaan sumberdaya agribisnis dan maritim yang optimal dan berkelanjutan sejajar dengan provinsi maju di kawasan timur Indonesia. Kebijakan daerah ini pun relevan dengan Nawa Cita Presiden Jokowi pada agenda prioritas nasional pada butir ke 4 disebutkan yakni Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Dan pada butir ke 9 yakni Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik dengan jalan percepatan pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan pengentasan kemiskinan. 

         Acara yang berlangsung hingga 24 September esok (hari ini) menghadirkan pembicara profesional di bidangnya masing-masing diantaranya, Dr. Hilmar Farid., Dr. Rer Pol Patta Tope, SE., Dr. Harry Widianto., Dr. Aris Tanudirjo.

Terakhir Diperbaharui pada Sabtu, 23 September 2017 23:15

Add comment


Security code
Refresh

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2701
mod_vvisit_counterYesterday14723
mod_vvisit_counterThis week17424
mod_vvisit_counterLast week94018
mod_vvisit_counterThis month220606
mod_vvisit_counterLast month326599
mod_vvisit_counterAll days11677405

We have: 81 guests online
Your IP: 54.226.172.30
 , 
Today: Des 18, 2017
Pagerank Checker

Contact Us

Anda dapat menghubungi kami :

:

Jln. Samratulangi No. 101 Palu                 Sulawesi Tengah, Indonesia

: 0451 - 451311
:
info@sultengprov.go.id